“KARYA ILMIAH YULIANTI2″

 

 

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

 

“UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG ENERGI PANAS MELALUI METODE EKSPERIMEN”

 

 

 

Diajukan untuk memenuhi tugas akhir semester

Universitas Prof.Dr.Hamka

( U H A M K A )

 

Oleh :

Y U L I A N T I

NIM : 1001037225

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Program PJJ S1-PGSD

U H A M K A

2011

KATA PENGANTAR

            Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena saya dapat menulis karya ilmiah yang berjudul LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS “UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG ENERGI PANAS MELALUI METODE EKSPERIMEN”. Karya ilmiah ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir semester di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

Saya menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini belum sempurna dan masih banyak kekurangannya. Untuk itu demi kesempurnaan karya ilmiah ini saya sangat mengharapkan adanya saran, kritik, dan masukan yang bersifat membangun.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman yang telah memberikan saran yang baik kepada saya dalam menyusun karya ilmiah ini, tak lupa saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti pembelajaran melalui program PJJ S1-PGSD melalui SEAMOLEC dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.

Bogor,  Juni 2011

Penulis,

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR      ……………………………………………………………………….       i

DAFTAR ISI     …………………………………………………………………………………….      ii

BAB I PENDAHULUAN   ……………………………………………………………………..     1

A. Latar Belakang        ……………………………………………………………………     1

B. Perumusan Masalah      ……………………………………………………………….     2

C. Tujuan Penelitian      …………………………………………………………………..     2

D. Manfaat Penelitian       ………………………………………………………………..     3

BAB II KAJIAN PUSTAKA     ………………………………………………………………     4

A. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar      …………………………………………     4

B. Pengertian Pembelajaran      …………………………………………………………     7

C. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran       …………………………………..     7

D. Metode Pembelajaran    ……………………………………………………………..   10

E. Ketepatan (Efektifitas) Penggunaan Metode Pembelajaran        …………..   11

F. Beberapa Metode Pembelajaran    ………………………………………………..   11

1. Metode Ceramah ……………………………………………………………..   12

2. Metode Simulasi    ……………………………………………………………..   13

3. Metode Demontrasi dan Eksperimen ……………………………………   14

4. Metode Inquiry dan Discovery     ………………………………………….   16

BAB III  PELAKSANAAN PENELITIAN     ……………………………………………   17

A. Subjek Penelitian      …………………………………………………………………..   17

B. Deskripsi Persiklus     …………………………………………………………………   18

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN      ………………………….   25

1. Pra Siklus   ……………………………………………………………………………….   25

2. Siklus Ke – 1   …………………………………………………………………………..   25

3. Siklus Ke – 2   …………………………………………………………………………..   31

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN   ………………………………………………….   39

A. Kesimpulan     …………………………………………………………………………..   39

B. Saran   …………………………………………………………………………………….   40

DAFTAR PUSTAKA      ………………………………………………………………………..   41

LAMPIRAN – LAMPIRAN

BAB  I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran yaitu, guru mampu dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Selain itu pula pengetahuan yang dimiliki guru sangat menentukan tingkat keberhasilan siswa, tanpa itu semua mustahil hasil yang dicapai dapat memuaskan, oleh karena itu guru harus mampu menetapkan strategi yang tepat, sehingga mendorong terjadinya pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan .

Menyadari hal itu semua, penulis merasa masih banyak kekurangan dalam melakukan kegiatan proses pembelajaran seperti yang dilakukan pada saat kegiatan prasiklus, tentang materi pembelajaran IPA dikelas IV, masih banyak terdapat siswa yang belum memahami materi yang diajarkan, sehingga hasil yang diperoleh belum memuaskan.

Hal ini terbukti nilai yang diperoleh siswa dari jumlah 29 siswa yang mendapat nilai standar KKM hanya 13 orang siswa, dan sisanya 16 orang siswa belum mencapai KKM yang diharapkan.

I.          Dari masalah yang penulis temukan dapat di identifikasi sebagai berikut :

1.      Siswa kurang aktif dalam pembelajaran

2.      Siswa belum memahami materi yang diajarkan

3.      Rendahnya nilai yang diperoleh siswa

4.      Siswa tidak mau bertanya

II.    Melalui diskusi dengan supervisor 2, diketahui bahwa faktor penyebab rendah nya nilai IPA di kelas IV pada saat evaluasi adalah sebagai berikut :

1.      Guru dalam menggunakan metoda tidak bervariasi

2.      Guru tidak menggunakan alat peraga tentang perpindahan energi panas

3.      Guru kurang memberikan motivasi.

Dengan demikian perlu kiranya penulis untuk membuat perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan bimbingan dari supervisor, guru meningkatkan kualitas belajar siswa.

B.   PERUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah mata pelajaran IPA berdasarkan masalah yang terdapat pada analisis masalah, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

Bagaimana upaya meningkatkan pembelajaran IPA tentang energi panas melalui metoda eksperimen.

 

C.   TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penulisan laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap pembelajaran IPA adalah :

1.      Meningkatkan kwalitas kinerja guru dalam pembelajaran

2.      Meningkatkan rasa percaya diri guru dalam memberikan pembelajaran IPA yang menyenangkan dengan variasi metoda.

3.      Membantu guru memperbaiki metoda.

4.      Meningkatkan hasil belajar siswa.

5.      Untuk memenuhi tugas akhir semester Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (UHAMKA)

D.   MANFAAT PENELITIAN

I.  Manfaat penelitian bagi guru :

a. Untuk memperbaiki pembelajaran yang di kelolanya.

b. Guru dapat berkembang secara profesional, dapat menunjukan bahwa ia mampu menilai dan memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya, menurut Riel(1998) dari entry ke mentor sampai master teacher, gaung profesional semakin santer dari tahun 1992 (Hopkins.1993).

c.       Guru lebih percaya diri.

  1. Guru dapat berkesempatan untuk berperan aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.

II. Manfaat penelitian bagi pembelajaran siswa;

a. Untuk meningkatkan proses/hasil belajar siswa

b. Para siswa akan bersikap kritis terhadap hasil pembelajaran.

III. Manfaat penelitian bagi sekolah;

Membantu sekolah untuk berkembang, karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru atau pendidik di sekolah tersebut. Sebagaimana telah di argumentasikan oleh Hargreaves (dalam Hopkins.1993) Sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri guru telah berhasil meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa.

BAB II

KAJIAN  PUSTAKA

A.   Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Untuk meningkatkan mutu pembelajaran IPA di SD model pembelajaran yang dianjurkan pada pandangan kontruktivis,  dianggap paling sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA. Hal itu tampak dengan banyaknya tulisan tentang pandangan kontruktivis dalam bentuk jurnal hasil penelitian atau penuangan gagasan dalam upaya mengembangkan model pembelajaran IPA.

Model pembelajaran IPA yang dikembangkan berdasarkan pandangan kontruktivis ini memperhatikan dan mempertimbangkan pengetahuan awal siswa yang mungkin diperoleh di luar sekolah. Disarankan oleh Bell (1993:16) agar pengetahuan siswa yang diperoleh dari luar sekolah dipertimbangkan sebagai pengetahuan awal pada sasaran pembelajaran.

Menurut pandangan kontruktivis dalam proses pembelajaran IPA seyogianya di sediakan serangkaian berupa kegiatan nyata yang rasional atau dapat di mengerti siswa dan memungkinkan terjadi interaksi sosial. Dengan kata lain saat proses belajar berlangsung, siswa harus terlibat secara langsung dalam kegiatan nyata. Sistem konseptual IPA sebagai suatu pengetahuan logik-matematika dan fisik hanya dapat dipelajari melalui penyesuaian arti kata pengajar dan pelajar (Herron, 1978).

Selanjutnya Teori Piaget mempunyai nama lengkap Jean Piaget, lahir di Swiss tepatnya di Neuchatel pada tahun 1896. Semenjak kecil Piaget tertarik pada masalah biologi terutama tentang hewan (Zoologi). Pada usia 11 tahun, beliau telah memiliki karya ilmiah tentang burung pipit yang albino. Pada usia 15 s.d. 18 tahun banyak menulis tentang hewan berbadan lunak.

Dari penelitian-penelitiannya, Piaget mengemukakan suatu teori bahwa cara berpikir seseorang berkembang secara bertahap atau beberapa periode. Lebih lanjut beliau beranggapan bahwa seorang anak bukanlah seperti tabung menanti untuk diisi dengan pengetahuan, melainkan secara aktif anak akan membangun pengetahuan tentang dunia dan isinya melalui keterlibtannya atau hubungan dengannya. Pada periode perkembangan yang berbeda, anak-anak mempunyai kemampuan berinteraksi yang berbeda dan akhirnya memiliki pengetahuan yang berbeda pula. Selain itu, Piaget beranggapan bahwa sejak bayi lahir telah mempunyai sistem yang secara terus menerus mencari dan memberi tanggapan terhadap suatu rangsangan dengan melakukan hal tersebut secara terus menerus akan membentuk suatu kebiasaan dan kemampuan.

Sistem tersebut pada mulanya terbatas pada kebiasaan yang memerlukan tanggapan yang mudah seperti mengisap dan menangkap. Tetapi secara terus menerus kebiasaan-kebiasaan ini akan berkembang menjadi lebih komplek, lebih terkoordinasi dan lebih mempunyai tujuan. Proses yang menyebabkan terjadinya hal tersebut dikenal sebagai adaptasi.

Selanjutnya Bruner menganggap bahwa belajar dan persepsi merupakan suatu kegiatan pengolahan informasi yang menemukan kebutuhan-kebutuhan untuk mengenal dan menjelaskan gejala yang ada di lingkungan kita. Bruner merupakan salah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli belajar kognitif. Beliau beranggapan bahwa belajar merupakan kegiatan pengolahan informasi.

Kegiatan pengolahan informasi tersebut meliputi pembentukan kategori-kategori. Diantara kategori-kategori tersebut ada kemungkinan saling berhubungan yang disebut dengan koding. Teori belajar Bruner ini disebut teori belajar penemuan.

Dalam penerapannya dalam proses belajar di kelas, Bruner mengembangkan model pembelajaran penemuan. Model ini pada prinsipnya memberi kesempatan pada siswa untuk memperoleh informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan barang yang nyata. Peran guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai seorang pemberi informasi, melainkan seorang penuntun untuk mendapatkan informasi.

Guru harus mempunyai cara yang baik untuk tidak secara langsung memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Model pembelajaran ini mempunyai banyak manfaat, antara lain :

1.        siswa akan mudah mengingatnya apabila informasi tersebut di dapatkan sendiri.

2.        Bukan merupakan informasi perolehan, dan

3.        Siswa akan mengingat lebih lama.

Dari ketiga teori diatas, yaitu model pembelajaran kontruktivis, teori Piaget dan model pembelajaran Bruner, penulis dapat  menyimpulkan  bahwa :

Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar tidak harus diberikan oleh guru semata, melainkan siswa sendiri juga harus terlibat langsung pada pembelajaran, juga siswa tidak boleh di kekang, harus diberi kebebasan mencari informasi sendiri-sendiri. Karena dengan demikian siswa akan merasa bangga karena biasa menemukan informasi sendiri. Siswa harus lebih aktif dan kreatif memberikan pendapatnya dan mau bertanya kepada guru.

Dengan demikian siswa tidak hanya diberi pelajaran oleh guru, akan tetapi mereka bisa mencari sendiri pelajaran dari luar dan tentunya tidak terlepas dari bimbingan guru itu sendiri.

B.   Pengertian Pembelajaran

Jika kita mengamati berbagai praktek pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru, dapat dijumpai gejala beraneka ragam. Keaneka ragaman itu terjadi, baik pada tingkah laku guru, siswa, maupun situasi kelas. Secara umum gejala yang dapat diamati dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok utama, yaitu :

a.         Ada guru yang mengajar menyampaikan materi pelajaran semata-mata.

b.        Ada guru yang sengaja menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga siswa dapat melakukan berbagai kegiatan yang beraneka ragam dalam mempelajari materi pembelajaran.

c.         Ada guru yang mengajar dengan memberi kebebasan kepada siswa memilih materi pembelajaran apa yang akan dipelajari sesuai dengan minat dan pilihannya, juga memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan proses dalam mempelajari materi pembelajaran tersebut.

C.   Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Jika ditelusuri secara mendalam, proses pembelajaran yang merupakan inti dari proses pendidikan formal di sekolah di dalamnya terjadi interaksi antara berbagai komponen-komponen itu sehingga dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori utama, yaitu : guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa.

Peran guru dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya menjalankan tugas utama sebagai berikut :

a. Merencanakan Pembelajaran

1). Tujuan apa yang hendak dicapai, yaitu bentuk-bentuk tingkah laku apa yang diinginkan dapat dicapai atau dapat dimiliki oleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran.

2). Materi pelajaran yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan materi pembelajaran merupakan pengalaman yang akan diberikan kepada siswa mengikuti proses pendidikan atau proses pembelajaran.

3). Bagaimana proses pembelajaran yang akan diciptakan oleh guru agar siswa mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

4). Bagaimana menciptakan dan menggunakan alat evaluasi untuk mengetahui atau mengukur apakah tujuan itu tercapai atau tidak.

b. Melakukan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran selayaknya berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan. Oleh karena itu, guru sepatutnya paham terhadap berbagai situasi yang dihadapi. Situasi pembelajaran itu dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

1). Faktor Guru

Diane Lapp, dkk (1975:1) menanamkan pola umum tingkah laku mengajar yang dimiliki guru dengan istilah “Gaya Mengajar atau Teaching Style .

2). Faktor Siswa

Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan kepribadian.

3). Faktor Kurikulum

Secara sederhana arti kurikulum dalam kajian ini menggambarkan pada isi atau pelajaran dan pola interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan tertentu.

4). Faktor Lingkungan

Novak dan Gowin (1984:6) mengistilahkan lingkungan fisik tempat belajar dengan istilah “millieu” yang berarti kontak terjadinya pengalaman belajar.

c. Mengevaluasi Pembelajaran

Mengevaluasi merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan fungsi evaluasi tersebut adalah untuk :

1).  Mengetahui apakah siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan

2). Mengetahui kondisi belajar yang disiapkan, apakah dapat  menyebabkan siswa belajar

3). Mengetahui apakah prosedur pembelajaran berlangsung dengan baik

4). Mengetahui dimana letak hambatan pencapaian tujuan tertentu

d. Memberikan Umpan balik

Menurut Stone dan Nielson (1982:11) umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar. Salah satu alasan yang dikemukakannya adalah belajar itu ditandai oleh adanya keberhasilan dan kegagalan.

D.   Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang ditetapkan guru banyak memungkinkan siswa belajar proses (learning by process). Bukan hanya belajar produk (learning by product). Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif, sedangkan belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif (sikap) maupun psikomotor (keterampilan).

Proses pembelajaran menurut guru dalam merancang berbagai  metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran pada diri siswa. Rencana ini merupakan acuan dan panduan, baik bagi guru itu sendiri maupun bagi siswa. Keaktifan dalam pembelajaran itu tercermin dalam kegiatan baik yang dilakukan guru maupun siswa dengan menggunakan ciri-ciri sebagai berikut :

a). adanya keterlibatan siswa dalam menyusun atau mebuat perencanaan, proses pembelajaran, dan evaluasi.

b). adanya keterlibatan intelektual, emosional siswa baik melalui kegiatan mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.

c). adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses pembelajaran.

d). guru bertindak sebagai fasilitator (pemberi kemudahan) dan koordinator kegiatan belajar siswa, bukan sebagai pengajar (instruktur) yang mendominasi kegiatan di kelas.

e). biasanya menggunakan berbagai metode, media, dan alat secara bervariasi.

E.    Ketepatan (Efektifitas) Penggunaan Metode Pembelajaran

Untuk melaksanakan proses pembelajaran yang aktif diperlukan penetuan metode pembelajaran yang tepat. Pertimbangan pokok dalam pembentukan metode pembelajaran terletak pada keefektifan proses pembelajaran. Tentu saja orientasinya kepada siswa belajar. Jadi, metode pembelajaran yang digunakan pada dasarnya hanya berfungsi sebagai bimbingan agar siswa belajar.

Ketepatan (efektivitas) penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran dengan beberapa faktor, yaitu : tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi kondisi dan waktu.

F.        Beberapa Metode Pembelajaran

a)        Metode pembelajaran sangat beraneka ragam. Dengan mempertimbangkan apakah metode pembelajaran cocok untuk mengajarkan materi pembelajaran tertentu, tidak adakah metode pembelajaran yang lebih sesuai, guru dapat memilih metode pembelajaran yang efektif untuk mengantarkan siswa mencapai tujuan.

b)        Metode pembelajaran menekankan pada proses belajar siswa secara aktif dalam upaya memperoleh kemampuan hasil belajar.

c)        Metode pembelajaran yang dipilih sepatutnya disesuaikan dengan bentuk belajar atau hasil belajar yang diharapkan diperoleh siswa.

d)        Metode pembelajaran merujuk kepada apa yang terjadi di sekolah sehubungan proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas.

Agar dapat menerapkan suatu metode pembelajaran yang relevan dengan situasi tertentu perlu dipahami keadaan metode pembelajaran tersebut, baik ketepatan maupun tata caranya. Pada bagian ini diuraikan beberapa metode pembelajaran.

1). Metode ceramah

2). Metode simulasi

3). Metode demontrasi dan eksperimen

4). Metode inquiry dan discovery

1. Metode Ceramah

Metode ini dapat dipandang sebagai suatu cara penyampaian pelajaran dengan melalui penuturan. Metode ceramah ini termasuk klasik. Namun penggunaannya cukup popular. Banyak guru memanfaatkan metode ceramah dalam mengajar. Oleh karena pelaksanaannya sangat sederhana, tidak memerlukan pengorganisasian yang rumit, komunikasi antar guru dengan siswa pada umumnya searah, karena itu guru dapat mengawasi kelas secara cermat. Namun demikian kritik dilontarkan pun cukup banyak, disamping itu seringkali pula terjadi siswa menerima pengetahuan yang salah terhadap materi pembelajaran yang dituturkan atau diceramahkan.

Agar pembelajaran menggunakan metode ceramah dapat dilakukan secara lebih baik, guru perlu mempertimbangkan beberapa faktor berikut :

1). Perumusan secara jelas

2). Kesesuaian metode Ceramah dengan tujuan

3). Memvariasikan metode ceramah dengan metode pembelajaran lain

4). Menggunakan alat pelajaran yang relevan untuk mrmbangkitkan minat      belajar siswa,

5). Pengorganisasian materi pembelajaran harus dilakukan secara  cermat, dengan menggunakan prinsip pembelajaran.

Untuk menambah tingkat keefektifan, diperlukan kemampuan memberi penjelasan. Hal yang harus diperhatikan dalam memberi penjelasan adalah :

a).  Kejelasan bahasa baik dalam memilih kata-kata, susunan kalimat maupun menghindari kekaburan memberikan batasan pengertian terhadap istilah baru.

b). Menggunakan contoh secara memadai dan relevan dengan ide, konsep atau generalisasi apa yang di jelaskan.

c).  Melakukan penekanan terhadap bentuk-bentuk informasi tertentu.

d). Penyusunan materi pembelajaran yang dijelaskan harus logis dan jelas, pola penyusunanpun harus jelas pula.

e). Menggunakan umpan balik (feed back)

Berdasarkan uraian diatas, pelaksanaan metode ceramah menempuh prosedur sebagai berikut :

1).  Guru menjelaskan tujuan dan topik yang akan diajarkan

2).  Memberi motivasi belajar dengan berbagai kegiatan

3). Memberikan penjelasan singkat tentang materi atau sub materi pembelajaran.

4).  Menyelingi kuliah dengan berbagai contoh dan Tanya jawab.

5).  Setelah ceramah dapat dilakukan diskusi tentang masalah yang dipelajari.

6). Untuk materi pembelajaran memantapkan dapat diberi tugas atau  kegiatan inquiry dan discovery.

7).  Dilakukan evaluasi dengan prosedur dan teknik tertentu.

2. Metode Simulasi

Metode ini dapat diartikan sebagai suatu cara pembelajaran dengan melakukan proses tingkah laku secara tiruan. Jadi semacam permainan dalam pembelajaran yang di angkat dari realita kehidupan. Bentuk simulasi bermacam-macam diantara yang popular adalah :

1). Sosiodrama, berguna untuk menanamkan kemampuan menganalisis situasi tertentu.

2).  Psikodrama, hampir mirip dengan sosiodrama, perbedaannya terletak pada penekanannya. Sosiodrama lebih menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama lebih menekankan pada pengaruh psikologinya.

3). Role playing atau bermain peran bertujuan menggambarkan sesuatu peristiwa masa lampau atau dapat pula cerita dimulai dengan berbagai kemungkinan yang terjadi baik kini maupun mendatang.

Tatacara Simulasi :

1). Jika siswa baru pertama kali melakukan permainan simulasi, berilah penjelasan singkat tentang teknik simulasi.

2). Guru menyampaikan cerita, kemudian mengatur adegan-adegan permainan.

3).  Guru meminta sejumlah siswa untuk bermain peran.

4).  Memberi petunjuk tentang darimana permainan dimulainya.

5).  Pada saat simulasi permainan memuncak, guru menghentikan permainan.

6). Diskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan simulasi yang dimainkan.

7).  Menarik kesimpulan diskusi.

 

3. Metode Demontrasi dan Eksperimen

Demontrasi berarti pertunjukan atau peragaan dalam pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dilakukan pertunjukkan suatu proses, berkenaan dengan materi pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan oleh guru maupun orang luar yang di undang ke kelas. Proses yang di demontrasikan diambil dari obyek yang sebenarnya.

Pelaksanaan demontrasi sering kali diikuti dengan eksperimen, yaitu percobaan tentang sesuatu. Dalam hal ini setiap siswa melakukan percobaan dan bekerja sendiri-sendiri. Pelaksanaan eksperimen lebih memperjelas hasil belajar karena setiap siswa mengalami dan melakukan kegiatan percobaan. Sebagaimana di kemukakan terdahulu, proses pembelajaran semacam ini sesuai dengan pandangan teori modern learning by doing.

            Perbedaan utama antara demonstrasi dan eksperimen, ternyata hanya pada pelaksanaan. Demontrasi hanya mempertunjukkan sesuatu proses di depan kelas, sedangkan eksperimen memberikan kesempatan kepada siswa melakukan percobaan sendiri tentang proses yang dimaksud. Namun demikian, demonstrasi itu sendiri jika dirangkaikan dengan eksperimen dapat mempertinggi efektivitas kegiatan yang dilaksanakan.

Langkah-langkah dalam melakukan demonstrasi atau eksperimen adalah :

1.  Langkah Umum

a). merumuskan tujuan yang jelas tentang kemampuan apa yang akan di capai siswa.

b). mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan

c). memeriksa apakah semua peralatan itu dalam keadaan berfungsi atau tidak

d). menetapkan langkah pelaksanaan agar efisien

e). memperhitungkan/menetapkan alokasi waktu

2.      Langkah Demontrasi

a). Mengatur tata ruang yang memungkinkan seluruh siswa dapat memperhatikan pelaksanaan demontrasi

b).   Menetapkan kegiatan yang dilakukan selama pelaksanaan

1). apakah perlu memberi penjelasan panjang lebar, sehingga siswa dapat memperoleh pemahaman luas

2). apakah siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan

3). apakah siswa diharuskan membuat catatan tertentu

3.      Langkah Eksperimen

a).  Memberikan penjelasan secukupnya tentang apa yang harus dilakukan dalam eksperimen

b). Membicarakan dengan siswa tentang langkah yang ditempuh, materi pembelajaran yang diperlukan, variabel yang perlu diamati dan hal-hal yang perlu dicatat

c). Menentukan langkah-langkah pokok dalam membantu siswa selama eksperimen

d).  Menetapkan apa follow up (tindak lanjut) eksperimen

4. Metode inquiry dan discovery

Metode ini pada dasarnya dua metode pembelajaran yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, inquiry  artinya penyelidikan, sedangkan discovery adalah penemuan. Dengan melalui penyelidikan siswa akirnya memperoleh penemuan. Metode ini berkembang dari ide John Dewey(1913) yang terkenal dengan “problem solving method” atau metode pemecahan masalah.

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A.     Subjek Penelitian

1. Lokasi

Lokasi kegiatan penelitian proses pembelajaran dilakukan di :

Nama Sekolah                : SD Negeri Palasari 03

Alamat                            : Kp.Geblug Rt 01 / Rw01

Desa                               : Palasari

Kecamatan                     : Cijeruk

Kabupaten                      : Bogor

Propinsi                          : Jawa Barat

2. Waktu Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan penelitian proses  pembelajaran di SD Negeri Palasari 03 dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut :

a)      Prasiklus tanggal 19 Mei 2011

b)      Siklus I tanggal 25 Mei 2011

c)      Siklus II tanggal 1 Juni 2011

3. Mata Pelajaran dan Kelas

Mata pelajaran  dan kelas yang menjadi subjek penelitian yaitu sebagai berikut :

Kelas                           : IV (empat)

Mata pelajaran             : Ilmu Pengetahuan Alam

Jumlah siswa                 : 29 orang

4. Karakteristik siswa

Karakteristik siswa kelas IV di SD Negeri Palasari 03 dilihat dari latar belakang kehidupan orang tua tergolong pada kehidupan yang rata-rata kurang mampu, dan latar belakang pendidikannya pun rata-rata lulusan sekolah dasar. Sehingga pada umumnya siswa memiliki minat belajar yang tergolong rendah.

Hal ini sering terbukti ketika sekolah sedang mengadakan ulangan semester masih banyak siswa yang tidak hadir atau membolos hal ini sebagai bukti bahwa tidak ada motivasi dari orang tuanya dan minat belajarnya rendah sedangkan kehadiran sangat penting sekali, meskipun demikian siswa di kelas IV yang tergolong pintar jika dibandingkan dengan teman yang lainnya masih terlihat ada 3 orang yang pintar dan yang sedang ada 4 orang, dalam hal ini guru perlu memberikan dorongan yang lebih optimal kepada siswa untuk membangkitkan minat belajarnya.

B.     Deskripsi persiklus

Penelitian proses pembelajaran IPA dilakukan dikelas IV SD Negeri Palasari 03, dimulai dari Rencana pembelajaran prasiklus. Rencana perbaikan pembelajaran I siklus I, rencana pembelajaran II siklus II, kemudian  dilaksanakan dalam beberapa tahapan;

1.         Rencana Pembelajaran (siklus I)

a.                    Rencana

1)      Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung;

2)      Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui alat peraga;

3)      Menyiapkan alat peraga dan penunjang lainnya;

4)      Mengoptimalkan peran aktif siswa dalam pembelajaran;

5)      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mau bertanya;

6)      Mengadakan latihan dan pertanyaan;

7)      Memberikan pujian kepada siswa yang nilainya baik sedangkan yang belum berhasil diberikan motivasi;

8)      Memberikan penjelasan kembali  dan pemahaman kepada siswa yang lebih kongkrit.

b.                  Pelaksanaan

1)      Prosedur pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan kelas yaitu:

a)      Merencanakan perbaikan pembelajaran

b)      Melaksanakan tindakan pelaksanaan perbaikan pembelajaran

c)      Melakukan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung

d)      Melakukan refleksi terhadap hasil pengamatan

c.                   Langkah Pelaksanaan

Kegiatan perbaikan pembelajaran  dilaksanakan berdasarkan hasil kajian melalui pengamatan, hasil refleksi serta hasil diskusi dengan supervisor sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Langkah yang akan ditempuh adalah:

1)      Menyiapkan rencana pembelajaran

2)      Mengadakan apersepsi untuk mengingat kembali pelajaran yang lalu.

3)      Menyampaikan tujuan pembelajaran

4)      Menyiapkan alat peraga untuk eksperimen

5)      Guru membimbing siswa yang sedang melakukan eksperimen

6)      Guru membimbing siswa agar siswa mau bertanya

7)      Guru meminta siswa agar menerangkan kepada temannya tentang hasil eksperimen yang telah dilakukan.

8)      Guru memberikan penjelasan tentang eksperimen yang telah dilakukan siswa

9)      Mengadakan evaluasi

10)  Menganalisis hasil evaluasi

11)  Menutup proses kegiatan pembelajaran.

d.         Pengamatan Pengumpulan Data dan Instrumen

Pelaksanaan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SD Negeri Palasai 03 Kelas IV, pada prasiklus diperoleh 13 dari 29 siswa atau 44,83 % yang mencapai nilai KKM. Dengan demikian penulis menganggap perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran, maka penulis mengadakan siklus I, pada perbaikan siklus I ternyata pembelajaran mengalami peningkatan dari 13 orang siswa yang mencapai nilai KKM, mengalami peningkatan menjadi 21 dari 29 siswa atau 72,41 % yang mencapai nilai KKM, dengan demikian bertambah 8 siswa atau 27,59 % yang  sudah mencapai kriteria ketuntasan belajar.

e.         Refleksi

1)         Waktu refleksi

Hari                  : Kamis

Tanggal : 19 Mei 2011

Tempat             : SD Negeri Palasari 03

2)         Pihak yang membantu dalam refleksi

a)                        Jarkasih Guru SDN Palasari 03

b)                        Iin Rukmini Kepala SD Negeri Palasari 03

3)         Kekuatan dan kelemahan

a) Kekuatan yang diperoleh peneliti untuk melakukan tindakan perbaikan berikutnya yaitu :

1. Siswa bersemangat dan aktif pada saat pembelajaran berlangsung

2. Guru merasa termotivasi untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya

b)  Kelemahan yang diperoleh oleh peneliti untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya :

1). Tujuan pembelajaran kurang relevan

2).  Kegiatan awal tidak terperinci

3).  Kegiatan Inti tidak maksimal

4).  Alat peraga tidak dilengkapi

5).  Proses penilaian tidak menggunakan instrument

6).  Kegiatan pembelajaran monoton

7). Guru tidak memberi kesempatan bertanya kepada siswa

8). Penggunaan metode kurang bervariatif

2.         Rencana Perbaikan Pembelajaran (siklus II )

a.                   Rencana

1)            Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung.

2)            Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui alat peraga;

3)            Menyiapkan alat peraga dan penunjang lainnya;

4)            Mengoptimalkan peran aktif siswa dalam pembelajaran;

5)            Memberikan kesempatan kepada siswa  untuk mau bertanya;

6)            Mengadakan latihan dan pertanyaan;

7)            Memberikan pujian kepada siswa yang nilainya baik seadangkan yang belum berhasil diberikan motivasi.

8)            Memberikan penjalasan kembali  dan pemahaman kepada siswa yang lebih kongkrit.

b.         Pelaksanaan

1)           Prosedur pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan kelas yaitu;

a)      Merencanakan perbaikan pembelajaran

b)      Melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran

c)      Melakukan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung

d)      Melakukan refleksi terhadap hasil pengamatan

c.         Langkah Pelaksanaan

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan berdasarkan hasil kajian melalui pengamatan, hasil refleksi serta hasil diskusi dengan supervisor sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi.

Langkah yang akan ditempuh adalah:

1)        Menyiapkan rencana pembelajaran

2)        Mengadakan apersepsi untuk mengingat kembali pelajaran yang lalu

3)        Menyampaikan tujuan pembelajaran

4)        Menyiapkan alat peraga untuk eksperiment

5)        Guru membimbing siswa yang sedang melakukan eksperiment

6)        Guru membimbing siswa agar siswa mau bertanya

7)        Guru meminta siswa agar menerangkan kepada temannya  tentang hasil eksperimen

8)        Guru memberikan penjelasan tentang eksperiment yang telah dilakukan siswa.

9)        Mengadakan evaluasi.

10)  Menilai hasil evaluasi

11)  Menutup proses kegiatan pembelajaran.

d.         Pengamatan Pengumpulan Data dan Instrumen.

Pelaksanaan pembelajaran Ilmu pengetahuan alam di SD Negri Palasari 03 Kelas IV. Pada siklus I diperoleh 21 dari 29 siswa atau 72,41 % yang mencapai ketuntasan belajar, meskipun sudah mencapai tingkat KKM, peneliti masih perlu melakukan perbaikan pembelajaran kembali agar pencapai nilai maksimal. Maka penulis melaksanakan Siklus II. Setelah dilaksanakan, mengalami kenaikan sebesar 13,79 % dari hasil pembelajaran pada siklus I  yaitu 72,41 % menjadi 86,21% atau 25 dari 29 siswa sudah mencapai ketuntasan belajar. Dengan tercapainya keriteria ketuntasan belajar maka tidak perlu diadakan pembelajaran berikutnya dengan materi yang sama.

e.         Refleksi

1.         Waktu rafleksi

Hari                    : Rabu

Tanggal              : 25 Mei 2011

Tempat               : SD Negeri Palasari 03

2.         Pihak yang membantu dalam refleksi

a. Jarkasih Guru SDN Palasari 03

b. Iin Rukmini Kepala Sekolah SD Negeri Palasari 03

3.         Kekuatan dan kelemahan

a. Kekuatan yang diperoleh oleh peneliti antara lain;

1. Telah tercapainya tujuan pembelajaran

2. Meningkatnya aktivitas siswa pada saat pembelajaran

3. Siswa bisa melakukan Demontrasi dan Eksperiment

4. Nilai rata-rata kelas di atas KKM

b. Kelemahan yang diperoleh peneliti antara lain;

1.  Masih ada siswa yang belum termotivasi

2.  Masih ada siswa yang nilainya di bawah KKM

3.  Masih ada siswa yang malu untuk bertanya.

BAB  IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Prasiklus

Prasiklus dilakukan pada tanggal 19 Mei 2011 jam 07.30 S/d selesai di SD Negeri Palasari 03, Kelas IV, mata pelajaran IPA dengan jumlah siswa 29 Orang.

Berdasarkan Data-data diatas siswa yang memperoleh nilai KKM  pada prasiklus 13 dari 29 orang siswa atau 44,83 %, di bawah KKM ada 16 dari 29 orang siswa atau 55,17 %  dengan nilai rata-rata 49,31.

Maka untuk itu penulis melakukan perbaikan-perbaikan pembelajaran dengan judul : “ UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN IPA TENTANG ENERGI PANAS MELALUI METODE EKSPERIMEN”

 

2.    Siklus Ke-1

Rencana Perbaikan Pembelajaran (siklus 1)

a.                   Data  Tentang Rencana

1).        Melakukan rencana pembelajaran yang sesuai dengan langkah-

langkah pembelajaran yang melibatkan siswa  secara langsung;

2).        Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui alat peraga;

3).        Menyiapkan alat peraga dan penunjang lainnya;

4).        Mengoptimalkan peran aktif siswa dalam pembelajaran;

5).        Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya;

6).        Mengadakan latihan dan pertanyaan;

7).        Memberikan pujian kepada siswa yang nilainya baik sedangkan       yang belum berhasil diberikan motivasi;

8).        Memberikan penjelasan kembali dan pemahaman kepada siswa yang lebih kongkrit.

b.                  Pengamatan

Setelah diamati ada beberapa masalah yang perlu diperpaiki ketika pembelajaran berlangsung antara lain:

1).          Siswa pada umumnya kurang aktif pada saat mengikuti proses

pembelajaran.

2).           Siswa kurang memahami terhadap materi pembelajaran  yang

diberikan, sehingga perolehan nilai siswa menjadi rendah.

Untuk lebih menjelaskan hasil yang diperoleh siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

TABEL  1

DAFTAR NILAI HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASRI 03

PADA SIKLUS 1

No

N a m a

Nilai

Keterangan

1

Alvionita Dwi

80

Mencapai KKM

2

Apandi Ahmad

80

Mencapai KKM

3

Cep Hamdan

80

Mencapai KKM

4

Fajar Fasha Wahyudi

80

Mencapai KKM

5

Jalaludin Abdurohman

20

Kurang dari KKM

6

Jeni Permatasari

100

Mencapai KKM

7

M. Amar Septian

40

Kurang dari KKM

8

M. Dian Hoerudin

80

Mencapai KKM

9

M. Haris

60

Mencapai KKM

10

M. Irman Saputra

60

Mencapai KKM

11

M. Januar Maulana

40

Kurang dari KKM

12

M. Muhtarudin

90

Mencapai KKM

13

M. Sadulloh

x

14

Nisfa Lusianti

80

Mencapai KKM

15

Penia Lestari

100

Mencapai KKM

16

Pitri Latipah

50

Kurang dari KKM

17

Saepul Rizki

30

Kurang Dari KKM

18

Siti Agustina

100

Mencapai KKM

19

Siti Nurarisa

100

Mencapai KKM

20

Siti Nurjanah

60

Mencapai KKM

21

Siti Nurlaela Sifa

x

22

Supyullah

60

Mencapai KKM

23

Yogi Permadi

50

Kurang dari KKM

24

Yudiansyah

60

Mencapai KKM

25

Yuliana

100

Mencapai KKM

26

M. Sayuti

60

Mencapai KKM

27

Ramdan Saeful

70

Mencapai KKM

28

Ivan Apiliano

x

29

Siti Aisyah

50

Kurang dari KKM

30

Burhanudin

60

Mencapai KKM

31

Salman

40

Kurang dari KKM

32

M. Farid Fauzi

50

Kurang dari KKM

Jumlah

1930

Nilai Tertinggi

100

Nilai Terendah

20

Rata-rata

66,55

 

TABEL 2

DATA ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03

No.

Nilai

Jml.

Frekuensi Siswa

Jml. Nilai

TKM

Baik

Sedang

Kurang

1

20

1

20

3,4 %

2

30

1

30

3,4 %

3

40

3

120

10,3 %

4

50

4

200

13,8 %

5

60

7

420

24,1 %

6

70

1

70

3,4 %

7

80

6

480

20,7 %

8

90

1

90

3,4 %

9

100

5

500

17,2 %

TABEL 3

GRAFIK DAFTAR NILAI HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03 PADA SIKLUS 1

TABEL 4

GRAFIK DATA ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03 PADA SIKLUS 1

c.                   Refleksi

1)                  Waktu refleksi

Hari                  : Kamis

Tanggal            : 19 Mei 2011

Tempat : SD Negeri Palasari 03

2)                  Pihak yang ikut dalam Refleksi

a.       Jarkasih

b.      Iin Rukmini Kepala Sekolah SD Negeri Palasari 03

d.         Keberhasilan dan atau kegagalan

1)            Keberhasilan yang diperoleh peneliti untuk melakukan tindakan perbaikan-perbaikan berikutnya;

a)             Siswa bersemangat dan aktif pada saat pembelajaran berlangsung;

b)            Guru merasa termotivasi untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya.

2)            Kegagalan yang diperoleh peneliti untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya;

a)            Tujuan pembelajaran kurang relevan

b)            Kegiatan awal tidak terperinci

c)            Kegiatan inti tidak maksimal

d)            Alat peraga tidak dilengkapi

e)            Proses penilaian tidak menggunakan instrument

f)  Kegiatan pembelajaran terlalu monoton atau tidak bervariasi.

3.    Siklus Ke-2.

a.                   Data tentang rencana;

1)            Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan langkah- langkah pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung;

2)            Menyiapkan alat peraga dan penunjang lainnya;

3)            Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui alat peraga dan   melakukan eksperimen didepan siswa secara langsung;

4)            Mengoptimalkan peran aktif siswa dalam pembelajaran;

5)            Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya;

6)            Mengadakan latihan dan memberi pertanyaan;

7)            Memberikan pujian kepada siswa yang nilainya baik sedangkan bagi yang belum berhasil diberikan motivasi;

8)            Memberikan penjelasan kembali dan pemahaman kepada siswa yang lebih kongkrit lagi.

b.                  Pengamatan;

Setelah dilakukan pengamatan masih ada beberapa siswa yang perlu perhatian dan bimbingan lagi diantaranya;

1)            Siswa masih ada yang kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.

2)            Siswa masih ada yang  belum menguasai materi.

3)            Masih ada siswa yang ragu-ragu untuk bertanya.

TABEL 5

DAFTAR NILAI HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03

PADA SIKLUS 2

No

Nama

Nilai

Keterangan

1

Alvionita Dwi

90

Mencapai KKM

2

Apandi Ahmad

90

Mencapai KKM

3

Cep Hamdan

90

Mencapai KKM

4

Fajar Fasha Wahyudi

80

Mencapai KKM

5

Jalaludin Abdurohman

60

Mencapai KKM

6

Jeni Permatasari

90

Mencapai KKM

7

M. Amar Septian

50

Kurang dari KKM

8

M. Dian Hoerudin

70

Mencapai KKM

9

M. Haris

70

Mencapai KKM

10

M. Irman Saputra

60

Mencapai KKM

11

M. Januar Maulana

50

Kurang dari KKM

12

M. Muhtarudin

100

Mencapai KKM

13

M. Sadulloh

x

14

Nisfa Lusianti

70

Mencapai KKM

15

Penia Lestari

100

Mencapai KKM

16

Pitri Latipah

50

Kurang dari KKM

17

Saepul Rizki

50

Kurang dari KKM

18

Siti Agustina

100

Mencapai KKM

19

Siti Nurarisa

100

Mencapai KKM

20

Siti Nurjanah

70

Mencapai KKM

21

Siti Nurlaela Sifa

x

22

Supyullah

70

Mencapai KKM

23

Yogi Permadi

60

Mencapai KKM

24

Yudiansyah

70

Mencapai KKM

25

Yuliana

100

Mencapai KKM

26

M. Sayuti

70

Mencapai KKM

27

Ramdan Saeful

80

Mencapai KKM

28

Ivan Apiliano

x

29

Siti Aisyah

70

Mencapai KKM

30

Burhanudin

80

Mencapai KKM

31

Salman

70

Mencapai KKM

32

M. Farid Fauzi

60

Mencapai KKM

Jumlah

2170

Nilai Tertinggi

100

Nilai Terendah

50

Rata-rata

74,83

TABEL 6

DATA ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA

No.

Nilai

Jml. Siswa

Jml. Nilai

TKM

Baik

Sedang

Kurang

1

50

4

200

13,8 %

2

60

4

240

13,8 %

3

70

9

630

13,8 %

4

80

3

240

10,3 %

5

90

4

360

13,8 %

6

100

5

500

17,2 %

Pada siklus 2 nilai tertinggi 100, nilai terendah 50, dan nilai rata-rata kelas 74,83. Itulah hasil penelitian siklus 2, dengan demikian tidak perlu diadakan pembelajaran berikutnya dengan materi yang sama. Karena siswa sudah mencapai KKM.

TABEL 7

GRAFIK DAFTAR NILAI HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03 PADA SIKLUS 2

TABEL 8

GRAFIK DATA ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA SDN PALASARI 03 PADA SIKLUS 2

c.                   Refleksi

1)                  Waktu refleksi

Hari                   : Kamis

Tanggal : 19 Mei 2011

Tempat : SD Negeri Palasari 03

2)            Pihak yang membantu dalam refleksi

a)                        Jarkasih

b)                        Iin Rukmini Kepala Sekolah SD Negeri Palasari 03

d.         Keberhasilan dan atau kegagalan

1).           Keberhasilan atau kekuatan yang diperoleh peneliti antara lain;

a)      Telah tercapainya tujuan pembelajaran

b)      Meningkatkan aktivitas siswa pada saat pembelajaran

c)      Siswa mampu melakukan Demontrasi dan Eksperimen

d)      Nilai rata-rata kelas sudah di atas KKM

2).           Kegagalan atau kelemahan yang diperoleh peneliti antara lain:

a)   Masih ada siswa yang belum termotivasi

b)   Masih ada siswa yang nilainya masih di bawah KKM

c)   Masih ada siswa yang belum berani untuk bertanya.

TABEL 9

REKAPIRULASI NILAI SISWA SDN PALASARI 03 PADA PRASIKLUS, SIKLUS 1, DAN SIKLUS 2

NO

NAMA SISWA

NILAI

KET.

Prasiklus

Siklus 1

Siklus 2

1

Alvionita Dwi

60

80

90

2

Apandi Ahmad

40

80

90

3

Cep Hamdan

80

80

90

4

Fajar Fasha Wahyudi

80

80

80

5

Jalaludin Abdurohman

40

20

60

6

Jeni Permatasari

60

100

90

7

M. Amar Septian

40

40

50

8

M. Dian Hoerudin

60

80

70

9

M. Haris

20

60

70

10

M. Irman Saputra

60

60

60

11

M. Januar Maulana

40

40

50

12

M. Muhtarudin

30

90

100

13

M. Sadulloh

x

x

x

14

Nisfa Lusianti

40

80

70

15

Penia Lestari

100

100

100

16

Pitri Latipah

40

50

50

17

Saepul Rizki

20

30

50

18

Siti Agustina

80

100

100

19

Siti Nurarisa

60

100

100

20

Siti Nurjanah

20

60

70

21

Siti Nurlaela Sifa

x

x

x

22

Supyullah

0

60

70

23

Yogi Permadi

40

50

60

24

Yudiansyah

40

60

70

25

Yuliana

80

100

100

26

M. Sayuti

60

60

70

27

Ramdan Saeful

40

70

80

28

Ivan Apiliano

x

x

x

29

Siti Aisyah

60

50

70

30

Burhanudin

60

60

80

31

Salman

40

40

70

32

M. Farid Fauzi

40

50

60

Jumlah

1430

1930

2170

Nilai Tertinggi

100

100

100

Nilai Terendah

0

20

50

Nilai Rata-rata

49,31

66,55

74,83

TABEL 10

GRAFIK REKAPITULASI NILAI PADA PRASIKLUS, SIKLUS 1, DAN  SIKLUS 2

Dari data grafik diatas menunjukan bahwa hasil rata-rata belajar siswa pada prasiklus 44,83 % ternyata pada siklus 1 mengalami peningkatan menjadi 72,41 % dan pada siklus 2 ternyata lebih meningkat lagi menjadi 86,21%. ini membuktikan bahwa hasil belajar siswa setelah diadakan penelitian maka hasilnya meningkat dari rata-rata KKM.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.       KESIMPULAN

Setelah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas pada mata pelajaran IPA Kelas IV di SDN Palasari 03, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kesimpulan Umum

Sebagaimana telah dikemukakan dalam penelitian diatas tentang mengajar tidak secara otomatis menjadikan siswa belajar. Dalam tugasnya tentunya guru tidak hanya mentransferkan materi pembelajaran akan tetapi perolehan hasil belajar siswa perlu dikaji dan dianalisis sehingga dapat ditemukan kelebihan dan kekurangan hasil belajar itu sendiri.

Berkaitan dengan penelitian yang dilakukan dalam rangka memperbaiki hasil dan proses pembelajaran IPA, disini penulis memperbaiki pembelajaran dengan melakukan metoda demonstrasi dan eksperimen yang diyakini oleh penulis dengan menggunakan metoda tersebut pembelajaran IPA akan lebih kongkrit dan mudah dipahami oleh siswa serta proses pembelajaran pun berlangsung aktif, kreatif dan menyenangkan. Hal ini terbukti dengan pencapaian perolehan nilai hasil belajar siswa meningkat, sehingga pada akhirnya nanti siswa dapat mengambil manfaat dan makna yang terkandung dalam pembelajaran untuk diaplikasikan dalam kehidupannya.

2. Khusus

Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan menghasilkan data-data perolehan nilai siswa yang dimulai dari kegiatan prasiklus, siklus ke-1 maupun siklus ke-2 dalam data terlihat adanya perubahan nilai hasil belajar siswa yang lebih meningkat, hasil ini terbukti dari hasil evaluasi siswa yang memperoleh nilai diatas KKM. Pada kegiatan prasiklus sebanyak 13 siswa dari 29 siswa atau            44,83 % pada perbaikan siklus ke-1 menjadi 21 siswa dari 29 siswa atau 72,41 % dan pada siklus ke-2 perolehan nilai siswa kembali mencapai peningkatan yaitu sebanyak 25 siswa dari 29 siswa atau 86,21% sehingga hal ini membuktikan adanya peningkatan perolehan nilai siswa setelah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas.

B.       SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat diajukan oleh penulis dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran siswa, yaitu :

1.        Guru dalam memberikan materi pembelajaran hendaknya menggunakan metoda yang bervariasi, disesuaikan dengan materi pembelajaran.

2.        Guru hendaknya memberikan penguatan kepada siswa sebagai pemacu motivasi untuk belajar.

3.        Guru hendaknya membuat skenario pembelajaran yang menarik bagi siswa agar terciptanya proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efisien dan menyenangkan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andayani, dkk. (2009). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka.

Budi Wahyono, dkk. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD dan MI Kelas IV. Bandung : Departemen Pendidikan Nasional.

Heru Lestari Mikarso, dkk. (2009) Pendidikan anak di SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Lukman Nulhakim. (2009). Perencanaan pembelajaran. Bandung : CV. Wacana Prima.

Mulyani Sumantri, dkk. (2008). Perkembangan peserta didik. Jakarta : Universitas Terbuka.

Nano Sutarno, dkk. (2009). Materi dan pembelajaran IPA SD. Jakarta : Universitas Terbuka.

Sumiati, dkk. (2009). Metode pembelajaran. Bandung CV. Wacana Prima.

 

 

 

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s